Nabokov dan Lolita


 

Banyak orang enggan untuk membaca karya sastra Rusia karena mereka memiliki anggapan bahwa karya sastra Rusia begitu berat dan sulit untuk dipahami. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai Rusia. Orang yang tidak mempelajari sejarah, kebudayaan, atau ideologi  Rusia cenderung memiliki hambatan dalam membaca karya sastra Rusia. Mereka tidak bisa terlalu relate dengan ceritanya. Oleh karena itu, saya menganjurkan anda untuk membaca Lolita karya Vladimir Nabokov.

Lolita merupakan buku yang diminati oleh banyak orang karena sewaktu Lolita diterbitkan di Amerika, Novel dengan alur cerita  seperti ini dianggap sesuatu yang baru. Buku ini unik karena mengisahkan sebuah cerita dari sudut pandang seorang pedofil dengan pemaparan yang begitu erotis. Namun selain cerita erotisnya, ada makna yang mendalam yang ingin disampaikan oleh Nabokov.

Humbert-Humbert adalah seorang pedofil yang memiliki fisik dan kepribadian  menarik. Dia jatuh cinta pada anak perempuan 12 tahun bernama Dolores Haze atau Lolita. Obsesi yang dirasakan oleh Humbert pada anak kecil muncul karena pengalaman cinta di masa lalu yang cukup traumatis.  Ketika Humbert masih kecil, dia jatuh cinta dengan temannya yang bernama Anabell. Di waktu Humbert mulai memasuki hubungan yang menggairahkan dengan Anabell tiba-tiba Anabell meninggal karena sakit. Humbert merasakan sakit hati yang begitu mendalam. Oleh Karena itu, Humbert tidak begitu tertarik secara seksual dengan perempuan-perempuan seumurnya seiring dia beranjak dewasa. Dia mencoba untuk menjalin hubungan dengan para perempuan bahkan sampai menikah, namun dia tetap tidak merasakan perasaan yang sama seperti saat dia bersama Annabel.   Secara diam-diam Humbert sering mengagumi anak-anak kecil di sekelilingnya. Tubuh-tubuh kecil yang ringkih itu mengingatkan Humbert pada Annabel. Humbert menyadari bahwa kekagumannya terhadap anak kecil adalah hal yang menjijikkan dan dia berusaha untuk menahan keinginan terdalamnya. Sampai pada saatnya dia mendapat warisan dari pamannya dengan syarat dia harus tinggal di Amerika. Dia pun pindah ke Amerika dan menetap di rumah  seorang janda bernama Haze. Satu-satunya alasan mengapa Humbert mau tinggal di Rumah haze adalah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis bernama Lolita Haze yang berumur 12 tahun. Sosok Lolita mengingatkan Humbert pada cinta pertamanya Annabel. Lolita pun juga sangat  tertarik dengan Humbert karena pada saat itu Lolita begitu mengagumi seorang artis terkenal yang memiliki paras seperti Humbert. Humbert memanfaatkan situasi ini untuk menggoda dan menyentuh Lolita. Selama tinggal di rumah Haze, Humbert bertingkah baik dan menyenangkan, tanpa disadari tingkah laku dan parad Humbert yang menarik ternyata membuat Haze  jatuh cinta padanya. 

Atmoser ini sebetulnya menggangu kenyamanan  Humbert, namun apapun dilakukan Humbert untuk bersama Lolita. Humbert dan Haze akhirnya menikah. Dalam menjalani pernikahannya, Humbert begitu menderita karena dia merasa jijik dengan perempuan dewasa. Bahkan dia memiliki keinginan terdalam untuk membunuh Haze agar dia hanya hidup dengan Lolita. Keanehan di dalam pernikahan ini mendorong Haze untuk mencari tau rahasia apa yang dimiliki oleh Humbert. Haze menemukan  jurnal Humbert yang menceritakan dan mendeskripsikan secara jelas pengalaman dan imajinasi  liarnya pada Lolita dan juga dirinya. Haze hancur dan begitu marah sampai akhirnya dia pergi keluar, tertabrak, dan meninggal dunia.  Humbert tidak langsung memberitahukan kematian Haze pada Lolita, Humbert lebih memilih untuk menjemput Lolita yang pada saat itu sedang  tinggal di perkemahan dalam waktu yang lama. Humbert mengajak Lolita berjalan-jalan mengelilingi Amerika dan menyatakan bahwa Ibunya mengalami sakit. Momen ini sengaja digunakan oleh Lolita yang juga menyukai Humbert untuk menggoda Humbert. Humbert dengan senang hati memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan imajinasi liarnya yang sudah lama terpendam. Humbert menceritakan kejadian sesungguhnya pada Lolita bahwa Ibunya telah meninggal dunia. Lolita merasa terpukul dan hanya Humbert yang dimilikinya saat ini. Mereka menjadi saling ketergangan. Hubungan romantis antara Lolita dan Humbert terus berlanjut dan bahkan Lolita semakin menggila. Humbert juga semakin terobsesi oleh Lolita dan obsesi itu membuatnya menjadi orang yang sangat posesif. Lolita tidak puas dengan hubungannya dengan Humbert dan  masa-masa ini mengubah Lolita  menjadi perempuan dewasa yang picik  seperti iblis liar. Keadaan ini semakin memburuk sampai pada akhirnya Lolita dan humbert hilang kendali dan betengkar. Lolita menghilang dan diduga pergi dengan seorang pria di tempat Lolita hilang. Humbert begitu hancur, hidupnya berantakan, dan penyakit jiwanya juga semakin berkembang. Humbert menjadi begitu paranoid. Dia terobsesi dengan pria tersebut dan ingin segera menemukan Lolita. Sampai suatu ketika Humbert menerima surat dari Lolita. Lolita menyatakan bahwa dia sedang hamil dan butuh uang. Humbert mendatangi Lolita dan melihat  Lolita tinggal dengan suaminya di kawasan yang begitu kumuh. Dia menyadari bahwa suami Lolita bukanlah orang yang diingatnya menculik Lolita dulu. Humbert masih mencintai Lolita dan  memintanya untuk kembali namun, Lolita menolak. Humbert tetap ingin membalaskan dendamnya dan menemukan informasi bahwa laki-laki yang dicarinya selama ini adalah Clare Quilty. Dengan keadaan penyakit jiwa yang dialaminya, Humbert pergi ke rumah pria itu dan segera membunuhnya dengan pistol. Humbert ditahan  di dalam penjara. Di penjara dia mendengar kabar bahwa Lolita meninggal dunia karena melahirkan anaknya. Humbert pun terkena gagal jantung dan meninggal dunia.

 “I need you, the reader, to imagine us, for we don’t really exist if you don’t” – Vladimir Nabokov, Lolita

Nabokov berhasil membuat  para pembaca melihat seorang pedofil dengan iba melalui pemaparannya dari berbagai sudut pandang dan juga situasi. Ketika membaca kisah seorang pedofil, orang pastinya akan menghakiminya, namun Nabokov memberikan sesuatu yang berbeda. Saya beranggapan bahwa Nabokov menggunakan konsep dalam sastra yaitu Poliphony.  Poliphony adalah ciri narasi, yang mencakup keragaman sudut pandang dan suara. Seseorang dalam cerita tidak dapat disimpulkan dengan serta-merta memiliki karakter yang mutlak baik atau mutlak jahat. Seseorang bisa menjadi sosok penjahat dan bisa menjadi korban.  Dalam pemaparanya, Nabokov menunjukkan bahwa Humbert adalah seorang penjahat karena dia orang yang berkesadaran dan orang yang terpelajar, namun dia tetap mengikuti keinginan terdalamnya tanpa memikirkan masa depan Lolita. Dia  juga menjadi korban karena kita melihat pergumulan yang dialami sebagai seorang manusia yang berbeda dan terasing dari yang lain. Contohnya, ketika dia terpaksa menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya untuk mengurangi tekanan sosial, ketika dia menjalani pernikahan dengan ibu Lolita untuk memperjuangkan cintanya terhadap Lolita, dan bahkan ketika dia merasa tertekan di saat Lolita berubah menjadi sosok perempuan yang liar dan mengerikan. Seperti yang dikatakan oleh dosen kritik sastra saya “polyphony  merupakan wujud manusia yang nyata”. Dari pernyataan tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa Nabokov ingin membuat karya sastra  sesuai dengan realitas yang dialami oleh manusia, dengan seperti itu para pembaca dapat tenggelam pada kisahnya.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s